Pages

Tuesday, August 19, 2014

Kisah Sekotak Yangko, Celana Cingkrang dan Kaos Kaki


Kau, yang membawaku kembali injakkan kaki disini. Mengulang romantisme lama, sedikit terbuai, dan bangkit dari mimpi. Ya... walau aku tak menginginkannya. Aku ingin terus mengulang masa itu; saat aku mulai mengenalmu.

Kau. Yang kukenal hanya lewat layar komputer, dan sesekali berbincang lewat lusinan huruf dalam kotak pesan jejaring sosial. Friendster.

Ya, kau! Yang diam-diam mencari informasi tentangku, lalu tiba-tiba datang ke rumah membawa yangko dan bakpia. Dan celana cingkrangmu.

Entah apa yang kau pikirkan. Dan entah apa yang membuatku tak bisa mengingat kata ”yangko”, hingga aku bertanya padamu suatu kali. Karena kau di Jogja, tempat makanan itu berasal, jadi aku menanyakannya padamu. Dan keesokan harinya kau tiba-tiba datang ke rumah, membawakannya untukku. Kau pasti sudah berpikir tentang itu, termasuk betapa jauh Jogja-Madura. Kalianget, rumahku. Tepat di ujung timur pulau garam.

 
 
Kau bilang aku cuek. Tapi kau bertahan walau hampir selalu mendapat balasan singkat ”iya”, ”tidak”, "oke", atau ”in syaa Alloh”. Dan kau pun tak mundur saat bertanya, ”Apakah sudah ada yang melamar ukhti?” lalu kujawab, ”That’s NOT your business. It’s my privacy.”
Aku selalu tersenyum mengingat itu. Betapa bodohnya aku.

Dan sebulanan setelah yangko itu kau antar ke rumah, aku menjadi istrimu. Kau mulai mendidikku dengan mengoreksi shalat dan tilawahku. Jangan ditanya bagaimana kikuknya aku di depanmu. Kau pasti masih sangat ingat itu.


 

Aku bertanya sesuatu. Tentang kau dan ”kenekatanmu” memilihku, walau aku sudah memberitahumu tentang masa laluku. Kudengar kau pernah hendak dijodohkan dengan seorang wanita berkerudung lebar, namun kau menolaknya.
Kau jawab, ”Aku menyukaimu karena kaos kakimu. Wanita yang dulu hendak dijodohkan denganku sungguh wanita yang baik, namun ia lupa (atau entah melupakan) kaos kakinya saat aku bertandang ke rumahnya. Ia lupa, bahwa aku bukan mahramnya dan auratnya bukanlah hakku. Dan aku memilihmu, karena kau menjaga auratmu.”
 
Kau tahu? Sebenarnya aku juga tertarik padamu sejak melihat celana cingkrangmu. Aku tak ingat wajahmu saat itu. Yang kuingat hanya celana cingkrang dan jaket coklat, yang kulihat dari belakang.

Kau, yang takkan kulalui pintu surga tanpa ridhomu, tanpa cintamu.
Aku cinta kau karena cintaku pada Tuhanku. Dan aku tahu cintamu pada-Nya lah yang membuatmu begitu mencintaiku.

Kau, aku, dan bidadari kecil kita. Nayfah.