Pages

Monday, June 23, 2014

Yuk, Belajar!

"Mbak Nov, materi belajar Nayfah setiap hari hanya belajar kreatifitas saja, ya? Saya sering mampir ke blog mbak untuk cari inspirasi aktivitas anak. Boleh tahu aktifitas apa saja yang mbak berikan untuk Nayfah?" tanya seorang teman via inbox ke akun facebook saya.

Sebenarnya, ada banyak materi pelajaran Nayfah. Hanya saja, yang saya posting di blog adalah pelajaran kreatifitasnya. Basically, Nayfah suka belajar apapun. Saya mengajarinya berlatih motorik halus, mengenal huruf, perbandingan, dll. Yang ingin tahu materi belajarnya, berikut saya beri sedikit contoh:

Untuk melatih motorik halusnya, saya membuat garis putus-putus seperti di bawah ini:



Nayfah menulis mengikuti garis putus-putus, dari pangkal (simbol lingkaran) hingga ujung (simbol segitiga).

Untuk menggunting, untuk mengenalan awal saya menggunakan garis lurus putus-putus seperti di atas, tapi lebih panjang. Masing-masing dengan posisi vertikal (3 buah), dan horizontal (3 buah). Setelah menyelesaikan tugas itu, saya beri lagi dengan motif zig-zag dan melengkung.

Setelah lancar menggunting lurus, naik tingkat ke menggunting persegi,
belah ketupat, jajar genjang dan segi tiga (di gambar sebelah kanan).
Kalau sudah selesai menggunting yang kanan, baru dilanjut ke  sebelah kiri
(yang sisinya lebih banyak). Lanjutkan dengan menggunting pola
lingkaran dan oval setelah mahir menggunting bentuk diatas.


Menyusun gelas plastik seperti ini bisa melatih anak dalam mengontrol
power. Meletakkan gelas bersusun secara perlahan dan belajar
tentang keseimbangan :)

Setelah mahir mengerjakan hal-hal di atas, sekarang Nayfah mulai bisa mnggambar ikan, perahu, orang, dll. Selain itu, saya juga melatih motorik halusnya dengan cara menebalkan huruf. Tujuannya hanya untuk melatih motorik halusnya yah, BUKAN mengajarkan membaca dan menulis. Jadi, Nayfah menebalkan huruf a, b, c, dan seterusnya dengan menganggap itu adalah gambar untuk berlatih menggambar.

Kenapa saya tidak mengajarkan membaca dan menulis?

Well, okay... Nayfah sudah hafal alfabet sejak usia 2,5 tahun. Saat itu dia tertarik dengan lagu ABC, jadi sy print-kan teksnya. Dia belajar bahwa ini A, itu B, itu C, dan seterusnya. Sejak mengenal huruf, semua yang ada tulisannya dieja, baik itu di TV, baju, buku, dan lain-lain. Namun saya masih kekeuh untuk tidak mengajarkannya membaca. Sesuai komitmen, sebelum usia 7 tahun tidak akan saya ajarkan membaca dan menulis kecuali jika Nayfah sudah benar-benar siap atau meminta saya mengajarkannya.
Secara psikologis, anak usia di bawah 7 tahun akan menganggap huruf dan angka tak ubahnya seperti gambar. Mereka melihatnya sebagai "objek seni". Mengenalkan A, B, C, dan seterusnya sebagai satuan masih diperbolehkan, tetapi mengajarkannya seperti "M-A-MA" (mengeja) sangat tidak dianjurkan. Anak biasanya tidak akan tertarik dengan hal-hal seperti itu, tetapi orang tua dan guru memaksakan agar mereka bisa. Benar, kan?

"Ummi, ini A. Yang ini S, ini P, bla.. bla.. bla..."
Tiap ada running text kegirangan sambil mendekati TV,
jari mungilnya menunjuk huruf-huruf berjalan.

Ada sebuah fakta yang mungkin juga akan diakui oleh sebagian besar pembaca. Ketika saya berbincang dengan seorang ibu yang mengajarkan anaknya membaca saat berumur 3-4 tahun, mereka mengatakan, "Biar nggak kalah dari anak-anak yang lain."
Ada juga yang mengatakan, "Biar dia bisa membaca buku, mbak. Lebih enak juga ke kita-nya. Belikan bukunya saja, nanti dia baca sendiri."

Oh... batin saya. Jadi demi gengsi, karena tidak mau dianggap "kalah" dari anak-anak orang? Bagaimana jika orang-orang itu melakukan kesalahan dengan memaksa anaknya belajar membaca, sedangkan anak mereka belum siap? Dan tentang membaca buku, apa sulitnya membacakan buku untuk anak? Mengapa tidak sedikit bersabar hingga anak-anak benar-benar siap dan berkeinginan untuk belajar membaca?

Main kemah-kemahan menggunakan kursi dan selimut.
Nayfah duduk di kursi sambil belajar di dalam kemahnya ^_^
Manusia itu makhluk cerdas, Moms... Tidak dipaksa membaca pun, anak-anak akan penasaran dengan huruf-huruf yang ada di buku. Jika sudah saatnya, kita tinggal memancing rasa penasaran itu untuk membangkitkan keingintahuan mereka.
"Adek tahu nggak, buku ini bercerita tentang apa?"
"Nggak tahu, Bun, memangnya tentang apa?"
"Buku ini bercerita tentang bla.. bla.. bla... Adek ingin bisa membaca seperti Bunda? Mau Bunda ajarkan sampai bisa?"
Kira-kira seperti itulah pendekatan saat akan mengajarkan, untuk mengetahui kesiapan dan ketertarikan anak terhadap buku. Pilihlah buku yang menarik, banyak gambar dan sedikit teks. Buku seperti itu biasanya lebih menarik untuk anak.



Selain belajar ini, Nayfah juga main masak-masakan, lho! Seru, karena dia masak makanan sungguhan ^_^
Mau tahu bagaimana hasilnya? Klik disini.

Main Masak-masakan a la Nayfah

Aduk terus ^_^
  Hi, Moms! Si kecil suka main masak-masakan? Daripada pakai clay, kenapa tidak mencoba membuat sesuatu yang benar-benar bisa dimakan? Nayfah suka memasak. Dia sudah mulai terampil mengocok telur, mengaduk tepung dengan adonan, menguleni, menggiling, dan mencetak.

Bikin adonan pancake, biasanya dimakan dengan olesan madu.
  Memang, hasilnya tak sebagus bikinan orang dewasa. Tapi beneran seru lho Moms, seru banget! Kotor, berantakan, itu pasti. Kadang pusing juga sih, kalau melihat rumah berantakan, tepung bertebaran di dapur, mainan bertebaran di ruang tamu, buku berserakan di kamar, dan sebagainya. Tapi kalau melihat Nayfah dengan wajah lugu dan khusyu'nya menguleni adonan sambil sesekali menggaruk kepala dan wajahnya hingga belepotan, lucu banget! Hihihi... Rasa pening hilang semua, ketawa-ketawa berdua. Saya tertawa karena melihatnya, sedangkan Nayfah tertawa karena melihat saya tertawa :D



 Orang lain mungkin akan marah ketika anak-anaknya menumpahkan tepung. Saya pun awalnya begitu, sedikit kesal ketika Nayfah menumpahkan banyak sekali tepung ke adonan clay. Tapi kemudian saya sadar, itu bukan karena kesengajaan, tetapi karena ketidaktahuannya. Karena itu, saya mulai mengajaknya bermain dengan media sungguhan. Memberitahunya mengapa tepung tak boleh terlalu banyak, mengapa menggunakan susu, mengapa harus dioven, dll.

Pie susu baru matang. Kurang rapi bentuknya, tapi tak
mengurangi kelezatannya :)

Saya biasanya menggunakan resep-resep sederhana saat memasak dengan Nayfah. Pie susu adalah salah satu favoritnya. Semoga blog ini bisa menginspirasi untuk berkreasi bersama si kecil :)

Monday, June 16, 2014

Yummy Meatball —Bakso Sapi Spesial Super Mental

Seperti yang saya sebutkan di posting sebelumnya bahwa hari ini saya punya dua projects, maka kali ini saya share tentang project kedua saya.
Awalnya, beberapa hari lalu mencoba membuat bakso dengan menggunakan resep yang saya dapat dari sebuah laman khusus masakan. Hasilnya? Wow, gagal total! Hihihi...

Berbekal pengalaman berkali-kali gagal, kali ini saya mencoba memodifikasi resep. Bakso kali ini maknyus lho, lebih enak dari bakso yang biasa dibeli Abinya Nayfah :D



Kuah:
  • 4 siung bawang putih
  • 3 butir bawang merah
  • 1 buah bawang daun (bawang pre)
  • 1 sdt garam
  • 1/2 sdt merica
  • Potongan urat / iga / tetelan
  • Air sekitar 2 liter

Bakso:
  • 500 gram daging sapi tanpa lemak (saya kurang tahu namanya apa, yang jelas penjual daging sudah mengerti jika kita bilang "Mau beli daging untuk bakso halus."
  • 2 sdm minyak goreng
  • bawang putih goreng, tumbuk halus.
  • 6 buah blok es (masing-masing ukurannya sekitar 2x2 atau 2x3 cm)
  • 3 butir putih telur (saya memakai telur ayam kampung. Jika pembaca menggunakan telur ayam biasa, cukup 2 butir saja karena ukurannya lebih besar).
  • 4 sendok makan tepung tapioka
  • 2 sdt garam
  • 1/2 sdm gula pasir
  • 1/2  sdt merica bubuk
  • 1/2 sdm baking powder 
  • Beberapa potong tahu bentuk segitiga (optional)
Saat membersihkan daging, usahakan untuk membuang semua urat yang masih menempel. Urat-urat ini nantinya bisa digunakan untuk kuah bakso supaya lebih lezat. Jika ingin mencuci daging, usahakan sebelum dagingnya dipotong-potong ya, jadi waktu masihbentuk besar utuh kita cuci sebentar. Kenapa sebentar? Karena terlalu banyak interaksi dengan air bisa membuat kualitas daging menurun.
Agar pemanfaatan waktu lebih efektif, saya membuat kuah terlebih dahulu. Caranya:
  1. Haluskan bawang putih, bawang merah, garam dan merica.
  2. Rebus air dalam panci, jika sudah mendidih masukkan potongan urat, tetelan, atau iga. Setelah itu, masukkan bumbu halus dan irisan daun bawang. Masak dengan api kecil atau sedang.
Sementara itu, kita membuat baksonya. Untuk menggiling daging saya gunakan chopper. Benda satu ini menjadi andalan saya untuk membuat bakso dan adonan kulit pie :D *big thanks to my hubby*

Yuk kita bikin baksonya:
  1. Potong daging sekitar 2x2 cm, ini untuk memudahkan saat digiling, supaya cepat halus.
  2. Masukkan daging, es, dan minyak ke dalam chopper, lalu giling sampai halus. Saya merekomendasikan chopper atau food processor ya, soalnya sudah pengalaman pakai dry mill (yg blender kecil itu lho..) hasilnya kurang halus dan kualitas daging menurun karena saat proses penggilingan harus menambahkan air.
  3. Letakkan daging halus di mangkok besar, lalu tambahkan putih telur, aduk rata.
  4. Tambahkan serbuk bawang putih goreng, tapioka, garam, merica, gula, dan baking powder. Aduk rata setiap memasukkan bahan.
  5. Aduk terus dengan tangan atau spatula selama kurang lebih 5-10 menit, lalu bentuk bulat dan rebus ke dalam kuah. Jika bakso mengambang, berarti bagian dalamnya telah matang.


Gantungan Resep Ummi dan Nayfah


Punya kardus bekas? Jangan dibuang dulu! Dengan sedikit kreatifitas, bisa menjadi benda unik seperti ini. Ini tempat kertas resep. Ceritanya, akhir-akhir ini saya dan Nayfah sering main "masak-masakan". Yah, daripada cuma bikin clay yang hanya dibentuk dan dijemur, mending bikin sesuatu yang benar-benar bisa dimakan. Nah, boks mungil ini saya gunakan untuk meletakkan kertas-kertas resep yang sudah ditandai dengan kata "BERHASIL".

Saya menggunakan kardus bekas air mineral, cukup ambil di bagian atas (lipatan kardus yang kecil), lalu dibentuk seperti box. Selanjutnya, tempelkan stik es krim dan hias dengan rajutan, manik, kancing, atau ranting kering dan daun. So cute  ^_^

Dari depan terlihat seperti ini.
Bagian belakang
Bagian atas
Bagian bawah

Home Schooling: Gurunya siapa?



Ada satu pertanyaan yang rupanya kini sedang menjadi tren di masyarakat. Jika bertemu anak-anak, hampir selalu, mereka bertanya, “Sekolahnya dimana?” Sepertinya, yang bisa membuat anak menjadi pintar adalah sekolah. Coba saja perhatikan, kalau ada anak pintar, pasti orang-orang akan bertanya seperti itu dengan maksud ingin menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah yang sama.
Wow… saya melihat gejala “revolusi pemikiran” disini. Para orang tua rupanya lebih cenderung berpikir praktis tentang pendidikan. Ingin anak menjadi pintar? Masukkan saja ke sekolah internasional! Atau ke sekolah favorit yang biayanya masih masuk akal walau peluang diterima hampir 0%.

Guru pun dianggap “dewa ilmu” yang tanpa dirinya anak-anak manusia tak akan bisa mendapat “pencerahan” untuk kehidupan. Terlalu berlebihan? Tidak, menurut saya. Masyarakat sekarang cenderung ingin yang praktis. Pernah melihat anak-anak SD les matematika? Saya pernah, dan terlalu sering. Padahal, jika kita telisik lagi, serumit apa sih, pelajaran anak kelas satu atau dua SD? Masa ibu atau ayahnya tidak bisa berhitung sama sekali? Tentu saja bisa. Tapi satu yang mereka inginkan: praktis!

Ada satu hal yang membuat miris, ketika saya berbincang dengan seorang ibu yang mengursuskan putrinya ke sebuah lembaga kursus matematika. “Biar bisa cepat calistung, mbak,” katanya.
“Pelajaran kelas satu rumit sekali ya, Bu, sampai harus kursus?”
“Nggak juga, sih… paling-paling cuma tambahan dan kurangan.”
“Kenapa nggak diajari sendiri, Bu?” Tanya saya.
”Waduh… males, mbak. Saya ini nggak telaten ngajari anak. Bisa-bisa saya marahin kalau nggak ngerti,” Jawabnya dengan diiringi tawa nyaring khas ibu-ibu.
Saya diam.

Nah, ini masalahnya. Banyak orang tua yang tak mau belajar. Bukan belajar matematika, tetapi belajar mengelola emosi dan belajar berpikir dengan cara piker anak-anak mereka. Seringkali orang tua marah ketika anaknya tak bisa mengerjakan ini-itu. Kenapa? Karena mereka membandingkan dengan diri mereka sendiri! Hellooowww… emak-emak keren, mungkin kita bahkan lebih buruk dari anak-anak kita ketika kita seumuran mereka!

Dan tentang jarimatika, calistung, atau apalah itu. Banyak buku yang mengulas tentang  tekniknya. Namun, sekali lagi, orang tua ingin yang praktis. Daripada belajar jarimatika, mending masukkan anak ke lembaga kursus. Kita terima beres. Betul, ibu-ibu?
Tapi saya tidak setuju. Ayolah orang tua, belajarlah… dan belajar dengan anak itu sangat menyenangkan. Believe me! Dengan belajar bersama, bonding antara ibu dan anak lebih erat.

Jangan salahkan anak-anak anda jika ketika mereka beranjak remaja, mereka lebih memilih curhat-curhatan dengan teman sebayanya daripada dengan orang tuanya. Kenapa? Karena bonding-nya lemah. Anak cenderung mencari orang yang lebih bisa mengerti mereka.

Baiklah, cukup membahas tentang guru dan orang tua. Kembali ke “Sekolahnya dimana?”
Pertanyaan itu pun berulang-ulang saya dengar, setiap kali bertemu dengan orang-orang yang tertarik dengan Nayfah. “Sekolahnya dimana?”
“Alhamdulillah home schooling,” jawab saya. Dan, lagi-lagi, satu pertanyaan yang selalu ditanyakan setelah jawaban itu: “Gurunya siapa?” Hadeuh… lagi-lagi, guru adalah dewa ilmu yang menjadi satu-satunya sumber pengetahuan anak.

Ketika saya menjelaskan bahwa sayalah yang mengajari anak saya, mereka menampakkan wajah sangsi. Mungkin mereka pikir, bagaimana bisa seorang ibu rumah tangga mengajari anaknya? Hehehe… Dan saya tak pernah memberitahu mereka bahwa saya pun dulu seorang pengajar. Saya hanya ingin meluruskan cara pandang masyarakat tentang pendidikan.

Yang lebih parah? Ada! Saat ke pasar, ada seorang penjual sayur yang nge-fans banget sama Nayfah. Kalau beli sayurnya barenga Nayfah, kadang saya bisa berbelanja dengan setengah harga ^_^
“Adek, pinter banget sih… sekolahnya dimana?” Tanya si ibu penjual sayur. Karena Nayfah sibuk melihat-lihat sayur, maka saya yang menjawab.
“Home schooling, Bu.”
“Oh... Bagus yah? Dimana itu?” tanyanya.
“Di rumah,”
“Wah, enak ya rumahnya dekat sekolah. Pantesan anaknya pinter,” kata ibu itu lagi.
Dan saya hanya melongo, tak tahu harus berkata apa. Berhubung banyak pembeli, saya tak sempat menjelaskan apa home schooling itu.

Yeap, beralih ke pembahasan selanjutnya: “Gurunya dipanggil ke rumah? Berapa bayarnya?”
Fyuh... ini termasuk “daftar pertanyaan wajib” yang selalu saya dengar dari orang-orang. Mereka pikir, home schooling a.k.a. sekolah rumah itu berarti memindahkan sekolah ke rumah, termasuk gurunya. Mereka pikir HS menggunakan kurikulum yang sama, namun dengan gaya yang lebih santai –di rumah— dan biaya yang lebih mahal (karena harus menggaji guru privat).

Tidak, ibu-ibu...HS bukan seperti itu. Di posting berikutnya akan saya jelaskan tentang ini.

Thursday, June 5, 2014

Bola-bola Singkong

Sesuai komitmen saya, home-cooking menjadi salah satu materi ajar wajib untuk Nayfah. Beruntung, hari ini saat berjalan pagi bersama Nayfah,  saya bertemu penjual singkong. Wah... betapa senangnya :)
Sejak dua minggu lalu saya mencari umbi-umbian yang satu ini. Kangen dengan camilan saat masih di kampung. Namanya "korket sabrang" alias kroket singkong. Makanan ini biasa disantap dengan sambal kacang, atau menjadi pelengkap "kalsot" alias kaldu soto. Beuh... rasanya sederhana, tapi kalau dipadukan dengan maknyus-nya sambal kacang, wah... *ngeces* tak terlupakan :D

Demi mengobati rasa rindu itu, hari ini saya nekat membuatnya. Nekat? Iya! Karena saya sendiri tak pernah tahu resep aslinya walau tinggal di Madura selama 25 tahun. Hehe...
Asisten dapur saya hari ini, as usual, Nayfah. Alhamdulillah tangan mungilnya sudah mulai terampil bekerja di dapur. Rencana awal sih mau bikin pancake atau crepes kesukaan Nay. Tapi berhubung singkong sudah terbeli, yuk mari kita bikin saja ^_^

Bahan:
Singkong sekitar 750 gr (rebus hingga matang, tapi jangan sampai lembek. Asal mudah ditumbuk saja)
Bawang putih 1 siung
Merica 1/4 sdt
Garam secukupnya (sy memasang sekitar 1 sdt)
Tambahkan irisan bawang pre atau daun kucai jika ingin tampilan kroket lebih menarik

Cara:
1.   Haluskan bawang putih, garam, dan merica.
2.   Tumbuk satu persatu singkong yang masih panas di cobek, lalu ulek sebentar.
3.   Masukkan daun bawang/kucai, aduk rata.
4.   Bentuk bola-bola kecil.
5.   Goreng dengan minyak banyak dan api sedang.
Jika ingin anak lebih tertarik dg camilan ini, tusuk bola-bola singkong dengan tusuk sate, jangan lupa potong bagian runcingnya agar aman.
Nayfah lebih suka memakannya dengan kecap manis :)

*ket foto:
Bentuk asli korket sabrang seperti yang bentuknya besar. Yg bentuk seperti bola hasil bikinan Umminya Nay, sedangkan yg lonjong-lonjong kecil itu hasil kreasi Nayfah. Katanya mau bikin bentuk cabai :D