Pages

Monday, April 28, 2014

Home School Activity #1

Awalnya, tidak ada niat sedikitpun untuk HS (Home Schooling). Saya dan suami tadinya ingin menyekolahkan Nayfah di Play Group agar dia bisa bermain dengan teman-teman sebayanya. Namun saya mendadak berubah pikiran saat berkunjung ke rumah seorang kerabat yang anaknya baru saja masuk TK. Dengan bangganya, dia bercerita bahwa anaknya sudah bisa baca-tulis. Dia juga memperlihatkan buku seperti LKS.

Saya pun menelan ludah. Setahu saya, anak-anak di bawah 7 tahun tidak seharusnya dicekoki pelajaran membaca dan berhitung. Usia di bawah tujuh tahun, seharusnya anak-anak masih dibebaskan bermain dan mengeksplorasi apa yang ada di sekitar mereka tanpa harus menekannya untuk menghafal huruf A, B, C, atau menghitung 1+1=2. Bisa stress anak itu, kalau membaca dan berhitung bukan hobinya. Belum lagi kalau tidak bisa mengerjakan soal dan dimarahi oleh ortunya. Hayo... adakah pembaca yang memarahi anaknya jika si anak lambat atau tidak bisa mengerjakan suatu soal?

I don't want my daughter to be depressed just because her parents wants "the best education" for her.
Pendidikan yang terbaik untuk anak, bukan yang terbaik menurut ortu saja. Anak juga harus dilibatkan. Biarkan mereka mengekspresikan perasaannya, bebaskan mereka untuk mengatakan, "Aku nggak suka belajar ini, aku sukanya belajar itu."
Ikuti saja apa yang disukainya, terus bimbing tanpa memaksakan kehendak.

Belajar itu paling enak kalau kita enjoy. Iya, nggak?

Nah, pilih-memilih semacam ini tidak bisa anda lakukan jika anak terikat dengan sekolah formal. Kenapa? Karena guru dan instansinya sudah punya kurikulum (yang menyamaratakan kemampuan anak), dan ada target-target yang harus dicapai dalam tiap pertemuan.

Bagaimana jika anak kita tak bisa mengikuti salah satu pelajarannya dan tertinggal dari anak-anak lain? Saya rasa tak usah saya jawab, anda tahu jawabannya. Biasanya ortu akan membandingkan dengan anak lainnya. Parahnya, hal ini bisa membuat anak merasa dirinya bodoh karena tidak bisa seperti teman-teman sekelasnya.

Ada sebuah kutipan dari Albert Einsten, yang seluruh manusia sepakat dia jenius, mengatakan:
"Everybody is genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will leave its whole life believing that it is stupid."
Jika di-Indonesia-kan: "Setiap orang adalah jenius. Namun jika anda menilai seekor ikan berdasarkan kemampuannya memanjat pohon, maka ikan itu akan selamanya menganggap dirinya bodoh."

Benar, kan?

Jadi, saya mencoba untuk mengetahui minat belajar Nayfah. Saya belikan flash card beberapa box, yang berisi huruf kapital dan contoh pemakaiannya (Misalnya: huruf A bergambar Apel, huruf B bergambar becak, dst). Saya juga mengajak Nayfah bermain dengan buku gambar dan kertas origami. Hasilnya? Ini dia:

Saat bermain flashcard, Nayfah hanya tertarik di hari pertama dia membelinya. Hari kedua diambil sebentar, hanya bermain sekitar 5 menit, lalu dibiarkan begitu saja.

Berbeda dengan menggambar. Dia betah berjam-jam duduk di meja untuk menggambar apapun. Bahkan kadang seharian menggambar terus. Lupa dengan TV dan tablet.
"Wow, my daughter is interested to art," pikir saya.

Lalu saya mencoba "memancingnya" dengan kegiatan lain. Membuat clay dan menghiasnya. Ini karena Nayfah suka mengerjakan pekerjaan rumah tangga, termasuk memasak. She loves it much!

Ini dokumentasinya:



Melihatnya senang bermain clay, saya pun bahagia. Ini bukan semata bermain, tetapi juga melatih keterampilannya. Belajar tak harus duduk di bangku, mendengar penjelasan guru dan meniru apa yang dicontohkannya, kan?

Pada intinya, home schooling mengajak anak untuk mencintai belajar. Tak perlu ada paksaan. Cukup beri mereka media belajar, biar mereka pilih sendiri mana yang mereka suka. Lalu kita sebagai orang tua membimbingnya.
Home schooling diartikan sebagai "sekolah rumah". Sekolahnya di rumah, dan yang menjadi pendidik utama adalah orang tua. Berikan waktu kita untuk anak-anak, fokus pada mereka, tunjukkan bahwa kita senang belajar bersama mereka :)


Tambahan:
Adonan clay dibuat dari terigu, garam, dan sedikit air. Takarannya kira-kira saja. Garam berfungsi sebagai pengawet alami. Setelah dibentuk, keringkan clay dengan cara diangin-anginkan atau dioven sekitar 5-10 menit dengan panas sedang.


Saturday, April 5, 2014

Anak dan Pembentukan Karakter


Miris sekali membaca berita tentang anak kelas 1 SD yang tewas karena dikeroyok teman-teman sekelasnya. Cuplikan beritanya bisa dibaca disini.

Masyarakat pun terbelalak. Siapa orang tuanya? Kok bisa anak-anak kecil bertindak sedemikian brutal? Bahkan ada wacana bahwa Indonesia dalam keadaan ”darurat pendidikan anak” dan harus ada seorang menteri yang khusus menangani masalah ini. Benarkah demikian?

Tindakan brutal anak tidak hanya dipengaruhi satu atau dua faktor. Ada banyak sekali faktor yang membentuk perilaku dan sifat anak.



Pertama, orang tua. Siapa yang setiap hari menjaga anak, mengawasi setiap tingkah lakunya, dan bertanggung jawab sebagai pendidik utama? Jawabannya mutlak: ORANG TUA! Sayangnya, sudah menjadi rahasia umum di negeri kita ini bahwa orang tua mendidik dengan cara kasar itu adalah hal yang ”diwajarkan”. Mengapa saya bilang ”diwajarkan”? Karena sebenarnya itu TIDAK WAJAR, namun dianggap biasa oleh masyarakat.

Sering saya melihat orang tua yang seenaknya saja memukul anaknya ketika si anak melakukan kesalahan-kesalahan. Jangankan melakukan kesalahan, mereka tidak mau makan saja dipukul. Menurut saya, sangat tak pantas seorang ibu/ayah memukul anaknya hanya karena anaknya tak mau makan. Ayolah, kita berpikir jernih sejenak. Keadaan lambung setiap orang berbeda-beda, termasuk anak. Ada anak yang pencernaannya bagus dan bisa mencerna makanan sebanyak apapun, dan ada juga anak-anak yang nafsu makannya rendah. Biasanya, para ortu membandingkan anaknya dengan anak-anak lain yang makannya lebih banyak. Akhirnya apa? Anak menjadi pelampiasan emosi orang tua.

Marah itu tidak mendidik. Marah adalah cara kita melampiaskan emosi.

Anak yang dibiasakan dengan kekerasan akan membuat mereka merasa benar ketika mereka juga melakukan hal itu. Anak-anak masih belum bisa berpikir panjang.
”Mama boleh memukul, kenapa aku tidak?” itulah yang ada di pikiran mereka.

Saya ambil sebuah pembanding, tentang anak saya Nayfah. Cobalah tanya dia, dicubit itu seperti apa? Maka dia akan melongo karena tidak tahu seperti apa dicubit. Dipukul itu seperti apa? Dia pun tak tahu, karena sejak lahir dia tak pernah mengetahuinya. Jangankan berbuat kasar pada orang lain, bentuk “cubit” dan “pukul” saja dia tidak mengerti.
Saya harap anak-anak dari pembaca juga sama seperti Nayfah.
 
Faktor kedua, lingkungan. Tempat bermain anak-anak adalah faktor terbesar kedua dalam pembentukan karakter. Pernahkah anda mendengar hadits berikut ini:

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Sama halnya dengan yang terjadi pada anak-anak kita. Untuk mengetahui baik buruknya lingkungan bermainnya, tentu kita harus menemani mereka.
Menemani anak bermain itu penting, karena saat bermain, anak-anak bisa saja mendapat sugesti positif atau sugesti negatif.

Misalnya, ada teman anak kita yang berkata kotor, kita bisa segera menegurnya. Atau jika ada teman anak yang berkata ”Terima kasih, maaf, permisi”, dan kata-kata positif lainnya, jangan ragu untuk memuji mereka. Anak kita akan belajar dari apa yang dilihat dan dialaminya. Jika kita menegur anak yang berkata kotor, anak kita akan tahu bahwa kita tidak menyukai hal itu. Begitu pula sebaliknya.

Pembahasan faktor Lingkungan ini akan saya lanjutkan pada posting berikutnya.
 

NIMREC

Ada yang tahu apa arti judul di atas? Sebelum saya beritahu, silakan baca tulisan ini dulu:

Entah sudah kesekian kalinya (karena terlalu sering), saya menjumpai ibu yang mengeluh tentang anak-anaknya. Mayoritas mereka mengatakan, "Anak saya ini begini-begitu, nakalnya minta ampun," dan lain sebagainya. Ironisnya, mereka mengatakan itu di depan anak-anak mereka.

Saya hanya tersenyum. Kenapa? Karena sebenarnya mereka sedang memberitahu saya tentang keburukan-keburukan mereka sendiri.

Anak adalah cermin orang tua. Kalau orang tua merasa ada sesuatu yang salah dengan anak mereka, introspeksi diri adalah jawabannya. Anak-anak itu aslinya polos. Orang tua dan lingkunganlah yang mewarnai mereka. Baik dalam sisi karakteristik, temperamen, dll.
Misalkan begini: Anda bercermin, lalu melihat bayangan di seberang sana memiliki jerawat merah. Apa yang akan anda lakukan? Mengambil batu lalu menghancurkan cermin itu? Atau membuangnya ke tempat sampah?
Tidak, itu bukan solusi. Jalan keluar terbaik adalah merawat sosok yang ada di cermin itu, sembuhkan jerawatnya, maka bayangan di cermin pun akan berubah lebih baik.

Begitu pula dengan anak. Saat orang-orang bertanya, "Kok Nayfah bisa kalem gitu, sih? Anak saya kok ngomongnya kasar? Saya harus mendidiknya dengan cara apa?"
Hmmm... saya jadi bingung menjawabnya, karena menurut saya yang harus dievaluasi dan dikoreksi adalah sikap dan treatment orang tuanya. Jangan heran jika anak berkata kasar, jika orang tua sering menghardik, "Goblok!" saat anak berbuat kesalahan.

Ubahlah sikap kasar menjadi bijak dan sopan, insya Alloh anak juga akan berubah.

Dan untuk judul di atas, bacalah dari kanan ke kiri, anda akan tahu jawabannya.

Ummi, Jangan Lepas Kerudungku

Tepat seminggu yang lalu, kami berkunjung ke rumah kerabat di Tangerang. Sudah lama Nayfah tidak bertemu sepupu-sepupunya.

Saat itu kami datang di waktu yang "salah", karena ternyata siang itu ada jadwal fogging di rumah mbak Warna, kerabat saya itu. Suara mesin fogging menunjukkan bahwa tak lama lagi mereka tiba. Jadi kami hanya duduk-duduk di teras rumah. 

Matahari bersinar terik, panasnya menyengat sekali. Saya berkeringat.
"Ummi, Nay keringetan..." kata Nayfah sambil berdiri di depan kursi tempat saya duduk. Saya pikir dia ingin saya membuka kerudungnya. Segera saya buka.
"Jangan, Ummi, jangan... Nay malu!" Katanya sambil membenamkan wajah ke pangkuan saya.
"Nggak apa-apa dilepas dulu kalo Nay keringetan, " jawab saya.
"Jangan, Ummi... Nay malu," katanya lagi, dengan muka merah dan mata berkaca-kaca.

Terenyuh hati saya.. Ternyata anak sekecil Nayfah bisa merasa malu saat auratnya terlihat sepupu-sepupu mungilnya. Nayfah, setiap akan keluar rumah biasanya meminta kaos kaki. "Alulat, Ummi..." (aurat, ummi...) katanya.

Ya Rabb... jadikanlah ia anak shalihah yang kelak menjadi ibu dari orang-orang beriman yang memperjuangkan agama-Mu. Amin...


NB: Untuk para Bunda yang ingin anaknya shalihah, ingatlah ini: Anak adalah cermin orang tua. Semua yang dilakukannya adalah proses adaptasi dengan orang tuanya. Jika orang tua membiasakan anak untuk menutup aurat, maka dengan sendirinya anak akan merasa bahwa menutup aurat adalah sebuah keharusan. Tanpa disuruh pun mereka akan melakukannya.


Thursday, April 3, 2014

Islamic Hypnoparenting: The Power of Words



Selasa pagi, putri saya Nayfah mengalami demam tinggi. Suhu tubuhnya sekitar 38-39° C. Awalnya saya tenang-tenang saja karena biasanya kalau Nayfah demam hanya sekitar 3-6 jam saja.
Kekhawatiran mulai timbul saat Selasa malam panasnya semakin menjadi. Nafsu makannya hilang, tak sesuap nasi pun ditelan. Jangankan nasi, bubur saja dia nggak mau. Ditambah lagi, kaki dan tangannya dingin. Kecemasan semakin bertambah, setelah membaca sebuah artikel kesehatan bahwa demam tinggi disertai kaki-tangan dingin berpotensi menimbulkan kejang.

Nayfah selalu merengek gelisah, seolah ingin saya mengerti rasa sakitnya. Ah, Nak... andai rasa sakit itu bisa Ummi ambil alih, maka akan Ummi ambil semua rasa sakitmu yang sekarang dan yang akan datang.
Untuk menenangkannya, saya selalu membisikkan, ”Sabar, ya... Nayfah berdoa sama Alloh semoga diberi kesembuhan. Yang bisa ngasi kesembuhan hanya Alloh,”
Dan saya pun mengajaknya menadahkan tangan menghadap kiblat, meminta kepada Yang Maha Kuat untuk memberi kesembuhan. Nayfah, dengan suara pelan mengucapkan ”Amin...”

Mungkin, anak seumuran Nayfah (2 tahun 8 bulan) belum mengerti siapa Alloh, dan mengapa harus memohon padaNya. Tetapi, dengan membiasakan anak belajar sabar, ikhlas dan ridho dengan apa yang terjadi padanya, akan membuat ia lebih cepat sembuh.
Ingin tahu mengapa? Karena, pada saat pikiran berada di kondisi alpha, maka kemampuan tubuh untuk memproteksi diri akan naik berkali lipat jika dibandingkan dengan keadaan biasa atau keadaan sedang stress. Ikhlas, sabar dan ridho membuat pikiran tenang, nyaman, dan saat itulah dinamakan kondisi alpha.

Jadi, kata-kata ajaib seperti ”Sabar”, dan lain sebagainya, bukan hanya untuk mengajarkannya tentang kepasrahan kepada Tuhan saja, tetapi secara tidak langsung kita membantunya untuk cepat pulih.

Kembali ke masalah demam. Hari kedua demam, kami membawa Nayfah ke Eka Hospital BSD. Suhu tubuhnya saat itu 39,2° C. Suster memasukkan obat penurun panas lewat (maaf) dubur. Demamnya berangsur pulih. Dokter bilang, demamnya mungkin karena infeksi virus. Nayfah dibekali obat ”anti virus” dan penurun panas.

Alhamdulillah, di hari ketiga (kamis), demamnya hilang sama sekali. Badannya masih lemas (karena nggak mau makan), namun kecerewetannya sudah kembali normal.
Kata-kata ajaib itu masih terus saya bisikkan. ”Alhamdulillah, Nayfah sudah sehat... Bersyukur sama Alloh ya,” Atau jika Nayfah merasa kurang nyaman (mungkin masih sakit kepala), saya bisikkan, ”Sabar ya, insya Alloh sebentar lagi sembuh.”

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk para Bunda.