Pages

Sunday, March 16, 2014

Islamic Hypnoparenting



Pagi tadi, untuk pertama kalinya saya mengajak Nayfah ke seminar. Sungguh, sudah lama saya merindukan ini. Berkumpul bersama orang-orang yang haus ilmu, memegang catatan kecil dan pulpen, dan bertemu nara sumber yang baik hati mau berbagi ilmunya dengan kami. Wah…jangan ditanya bagaimana rasanya. Nyeeessss… banget. Apalagi diadakan di masjid J

Tema seminar tadi adalah: Islamic Hypnoparenting. Nara sumbernya Ustadz Ucu Najmudin, penulis buku best seller “Islamic Hypnoparenting: Multiple Therapy for Muslim”. Gayanya santai, dan penyampaian materinya menarik.

Mau ngintip catatan saya? Hihihi… sebelumnya sy beritahu “kisah dibalik layar”-nya dulu yah.
Kalau dulu saat masih kuliah saya bisa mencatat hampir semua materi yang disampaikan, kali ini saya tak bisa seperti itu. Ada Nayfah, putri semata wayang kami, yang menyemarakkan suasana. Mau nulis, eh… pulpennya diambil duluan. Jadilah buku catatan bergambar ikan, bunga, bulatan, dan lain-lain. Hehehe... pelajaran juga buat saya, supaya lain kali membawa sedikitnya dua pulpen.

Tak semua bisa saya catat, hanya beberapa poin penting seperti berikut ini:

1.      Pembentukan karakter anak dipengaruhi oleh 4 (empat) faktor, yaitu:
Anak adalah blueprint orang tua. Ortu adalah cerminan dari anak. Jika anak kita temperamental, suka berkata kasar, atau berperilaku buruk, jangan serta merta menyalahkan anak. Telaah lagi sikap kita. Kemungkinan besar, secara tidak sadar kita berbuat seperti itu di depan anak, walaupun mereka bukan objeknya.
Saya pernah membaca artikel parenting-nya bu Elly Risman yang mengatakan bahwa jika ortu berkata kasar pada orang lain di depan anak, secara tidak langsung mereka (anak-anak itu) ”diperintah” untuk melakukan hal yang sama pada orang lain.

2.      Rumah adalah sekolah terbaik bagi anak-anak. Setiap orang tua adalah guru terbaik untuk anak-anaknya. Kenapa? Karena ortu-lah yang paling mengerti anak mereka. Kecuali, tentu saja jika si ortu terlalu sibuk dengan urusan ini-itunya sehingga komunikasi dengan anak tak terjalin sempurna. Bahkan bisa jadi anak lebih dekat dengan orang lain daripada ibu dan ayahnya. 

3.      Makanan mempengaruhi temperamen anak. Anak yang sering mengkonsumsi makanan berbahan kimia cenderung lebih temperamental daripada anak yang memakan makanan home-made. Selain itu, makanan berkadar gula tinggi juga bisa mempengaruhi temperamen anak. [Note: saya tidak sempat mencatat keterangan ilmiah yang diterangkan tadi, yang saya ingat bahwa makanan-makanan itu bisa mempengaruhi hormon]

4.      Manajemen spiritual.


Pembentukan karakter anak, pada dasarnya dibentuk sejak anak masih dalam kandungan.  Selengkapnya disini.

Rahim Ibu adalah Ruang Kelas, Bukan Ruang Tunggu


Ini adalah kelanjutan dari catatan kecil saya sebelumnya.

Pembentukan karakter anak, pada dasarnya dibentuk sejak anak masih dalam kandungan. Perumpamaannya, rahim ibu adalah ruang kelas, bukan ruang tunggu. Jadi, di dalam rahim, anak-anak kita sebenarnya belajar dari ibunya. Janin bukan sedang diam menunggu saat dilahirkan; ia menyerap informasi, lalu merekamnya di otak. 


Ustadz Ucu bercerita, pernah mendapat pasien seorang anak berusia 2,5 tahun yang omongannya ”luar biasa”. Selain berkata kasar, anak itu juga selalu menghina orang-orang yang dilihatnya. Misalnya, jika ada orang berhidung ”sedikit mancung” (mancungnya sedikit, banyakan peseknya), si anak akan spontan mengejek orang tersebut. Tentu, ini bukan hal yang lumrah bagi anak seumuran itu.



Saat di-therapy, si ibu bilang bahwa selama ini dia tidak pernah bersikap seperti itu di depan anaknya. Usut punya usut, ternyata saat hamil dulu, si Ibu ini suka bergosip (membicarakan keburukan orang lain) dan berkata kasar. Disitulah baru diketahui akar masalahnya.



Tentu kita tidak ingin hal seperti ini terjadi pada kita dan anak-anak kita kan, Bunda?


Baca kelanjutannya disini