Pages

Thursday, December 4, 2014

Giveaway Party #2



Bismillah…

Hello Broch Lovers, sudah saatnya Giveaway Party #2, nih. Sudah siap untuk mendapat hadiah bros eksklusif dari La Léh House ofCrochet?


Periode Kuis: 5 - 27 Desember 2014

 




Aturan mainnya sederhana:
  • Like page La Léh House of Crochet (bagi yang sudah me-Like bisa skip poin ini)
  • Klik Share atau Berbagi blog link ini atau foto Giveaway Party di fanpage La Léh House of Crochet. Pastikan pengaturan privacy-nya untuk Public, agar kami bisa mengecek di wall peserta kuis.
  • Mention 3 teman di kolom komentar di album atau foto Giveaway Party dengan format:
  1. Done --> like page
  2. Done--> share foto/link
  3. Nama teman 1, Nama teman 2, Nama teman 3
Setelah memenuhi ketiga kriteria di atas, secara otomatis Brooch Lovers terdaftar sebagai peserta kuis
Selesai!

Pemenang kuis akan diumumkan pada tanggal 28 Desember 2014. Biaya pengiriman hadiah ditanggung oleh penyelenggara kuis.

Good luck!

Monday, November 24, 2014

Bagaimana Menghitung Harga Rajutan?


Bagaimana sih, menentukan harga untuk hasil rajutan kita? Perajut A harganya sekian, perajut B sekian, sedangkan perajut lainnya sampai X, Y, Z harganya juga berbeda.
Nasehat saya: jangan pernah menjadikan harga orang lain sebagai patokan. Takut kalah saingan dengan yang menjual dengan harga murah? Padahal mungkin saja mereka baru bisa merajut. Jadi, harga dibuat semurah mungkin supaya cepat balik modal dan mereka bisa terus merajut.Bisa juga karena mereka memproduksi secara massal, dengan mengupah orang lain dengan gaji sangat rendah. Hasilnya? Anda bisa melihat rajutan-rajutan yang dijual di pasar yang harganya amat sangat murah sekali. Hingga orang-orang akan berpikir, "Untuk apa susah-susah membuat bros rajut jika kita bisa membelinya di pasar dengan harga Rp.2.000 per buah?"


Beberapa perajut juga menetapkan harga tinggi. Biasanya, mereka adalah perajut-perajut yang sudah punya ”jam terbang” tinggi dan kualitas produknya memang bagus, sehingga orang-orang akan tetap membeli produk mereka walau harganya mahal. Bahan yang digunakan juga lebih baik daripada yang harganya murah.

Flash back ke beberapa tahun lalu, saya pun sama dengan perajut itu (yang menjual produknya dengan harga murah). Dulu, untuk sebuah syal berbahan katun sembur, saya menjualnya sekitar 15.000. Gila? Hahaha... kalau dipikir-pikir lagi, mungkin iya. Pantas saja banyak order, karena saat itu saya belum tahu cara menentukan harga. Saya hanya berpatokan pada harga benang (saat itu sekitar Rp.8.000). Saya kira harga 15.000 sudah banyak untungnya, lumayan bisa digunakan untuk membeli benang lagi. *bodohnya*


Saya belajar seiring waktu. Saat ke mall, saya melihat barang-barang handmade dijual dengan harga tinggi. Saya sempat membatin, ”Emang ada orang yang mau beli?”
Ternyata banyak yang membeli. Apa lagi kalau bukan karena kualitasnya yang bagus dan model barang-barang tersebut yang unik? Dari situ saya belajar, bahwa untuk membuat produk yang berkualitas, bahannya pun harus pilihan. 
Saya pikir, seharusnya ada “biaya ekstra” selain menghitung harga benang dan material lainnya. Harus ada harga ketelitian, skill, dan waktu.

”I don’t sell yarns. I am selling my creativity. Everyone can buy yarns, but not every of them can change it into a beautiful thing.”  
Saya tak menjual benang. Saya menjual kreatifitas dan bakat saya. Semua orang bisa membeli benang, namun tak semua bisa mengubahnya menjadi benda-benda cantik.


Secara bertahap, saya menaikkan harga produk saya. Sempat ada kekhawatiran, jikalau pelanggan saya hilang. Namun saya berbaik sangka pada Alloh, bahwa takaran rejeki saya sudah sesuai dengan perhitungan-Nya.


Lalu bagaimana cara menghitung harga jual? Saya menggunakan rumus seperti berikut:
WHOLESALE= 2x material + (time x labor cost)
RETAIL= Wholesale + profit

Jadi misalnya begini...
Material yg digunakan adalah:
-Benang 10 gram (harga per gulung 11.000, jadi utk 10 gr harganya 1.100)
-peniti pin Rp.400
-lem Rp.500
-box mika Rp 1.500
-label art paper 500/pc
-waktu pembuatan 30 menit
-labor cost (biaya pembuatan) Rp.20.000/jam

Menghitung harganya:
2x (1.100 +400 +1.500 +500) + (30 menit x 20.000/jam)
Harga = 2x 4.000 + (30/60 x 20.000)
Harga = 8.000 + (1/2 x 20.000)
= 8.000 + 10.000
= 18.000.

Nah, harga bros rose 18.000/pc. Itu harga wholesale (grosir). Untuk harga retail/satuan, tergantung masing-masing perajut mau berapa persen. Misalnya harga satuan sy naikkan sebanyak 30%, jadi harga satuannya adalah:
18.000 + 4.800 = 22.800 --> dibulatkan ke 23.000

Jadi, jika ada yg membeli satuan saya beri harga 23.000, dan reseller sy beri harga 18.000 (dengan ketentuan minimum order 25 box).


Baiklah, semoga artikel ini bermanfaat. Terus semangat untuk berkarya ;)

Thursday, November 20, 2014

Mengapa Memilih Home Schooling?

Bukan sesuatu yang mudah ketika saya memutuskan untuk menyekolah-rumahkan Nayfah. Semua ada proses berpikirnya, terutama bagi seorang ibu perfeksionis seperti saya, yang segala hal harus serba perfectly planned dan ditentukan target pencapaiannya. 

Awalnya, saya ingin anak saya bersekolah di playgroup yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama, dan memberikan ekstra kulikuler berupa kursus biola atau piano. Hingga suatu saat, saya berpikir, "Akan jadi apa anak saya nanti? Seperti anak-anak yang kami temui ketika berbelanja di mall? Anak-anak yang selalu berbicara menggunakan bahasa Inggris tapi tak pernah berkata I'm sorry ketika melakukan kesalahan?"

Tidak, batin saya. Bukan anak-anak seperti itu yang saya mau.

Saya pun pernah berpikir untuk menyekolahkan Nayfah di sebuah pondok pesantren, di Madura. Namun, sekali lagi, saya urungkan niat itu. Masih lekat dalam benak saya, ketika beberapa teman lulusan pesantren bercerita bahwa ponpes adalah "tempat pembuangan" mereka; tempat dimana para orang tua berdalih memberikan tempat belajar terbaik, namun tak pernah memanusiakan anak-anaknya. 
Mereka tak pernah ditanya tentang kesiapan dan kemauan mereka belajar disana. Bahkan, yang lebih parah, ada seorang teman yang sangat membenci orang tuanya. "Dimana mereka saat saya butuh kasih sayang?" Katanya. 

Dan saya putuskan untuk mencoret pondok pesantren. Saya baru akan mempertimbangkannya lagi jika Nayfah sudah menyatakan siap dan ingin belajar disana. Saya ingin menjadi orang pertama yang mendengar keluh kesahnya ketika ia merasa tak nyaman. Saya ingin menjadi orang pertama yang mendengar curhatannya saat ia memasuki masa pubertas. Saya ingin ia selalu merasa orang tuanya selalu ada saat ia butuh, dan selalu menjadi sahabatnya. Bonding harus terjaga.

Lalu, solusinya? Langkah pertama adalah menentukan "hasil" Seperti apa yang saya inginkan. Saya ingin Nayfah menjadi seorang anak yang shalihah, penghafal Qur'an, yang taat pada Tuhannya. Itu saja. 

Bismillah, saat itu (Nayfah masih usia sekitar 2 tahun) saya mengamati beberapa PAUD di sekitar perumahan yang berembel-embel "Islam". Ada sebuah play group yang muridnya tak terlalu berjubel seperti paud lain. Saya pikir, mungkin ini cocok. Hingga suatu saat, saya pulang dari mengantar paket lewat di depan sekolah itu. 

Saat anak-anak ramai pulang sekolah, rumah di depan sekolah itu (milik seorang kristiani) menyetel lagu rohani kristen sangat keras. Na'udzubillah... orang itu memaksa anak-anak mendengar nyanyian itu. Entah apakah ini dilakukan setiap hari. Tentu, anak-anak akan mengingat lagu-lagu itu. 
Dan benar dugaan saya! Beberapa hari kemudian saya lewat di tempat yang sama, saat jam pulang sekolah. Beberapa murid berjalan beriringan, mereka kompak bernyanyi sebuah lagu. Nasyid? Bukan! Jingle Bell!

Saya mencari playgroup lain, kali ini letaknya tepat di sebelah masjid. Yang ini pasti bagus, batin saya. Saat lewat di depan playgroup itu, anak-anak sedang bernyanyi. Dipandu oleh gurunya. Sepulang dari sana, entah mengapa saya tiba-tiba saja merasa sangat ingin membaca literatur Islam di lemari. Saat membuka buku, mata saya langsung tertarik membaca kisah Rasulullah yang ketika beliau belum diangkat sebagai Rasul, ingin mendengarkan acara nyanyian/musik namun Alloh membuatnya tertidur hingga acara tersebut usai.

Saya tertegun. Is it a sign? Tanya saya dalam hati. Apakah Alloh hendak mengatakan bahwa Ia tak suka hamba-nya menikmati nyanyian yang melenakan? Mungkin ya. Saya juga merasakan itu. Ketika "terkontaminasi" nyanyian, saya merasa lebih susah menghafal. Lebih susah mengingatnya, karena saat sedang senggang yang terputar di otak adalah nyanyian, bukan hafalan.

Beralih ke Paud lain, yang juga berembel-embel "Islam". Di depan Paud ada spanduk besar berisi target pencapaian setelah lulus Paud:
-Dapat membaca
-Terampil menulis
-Jago berhitung
-Hafal 10 surat pendek
 
Saya berpikir dalam hati, hafal 10 surat pendek? Ah, lebih baik saya masukkan TKA saja, yang murid-murid mungilnya sudah hafal juz 'amma.
Calistung? Saya pernah membaca tentang ini. Bahwa jika anak tidak benar-benar berminat dan enjoy, calistung ini hanya akan membuat mereka under stressed atau malah depressed

Lalu saya mulai mencari referensi tentang home schooling; sebuah cara mendidik anak dengan menjadikan orang tua sebagai guru utama. Saya merasa inilah yang paling tepat untuk Nayfah. Saya bisa mengawasi informasi apa saja yang ia dapat, dan yang terpenting adalah ia bisa selalu belajar tanpa merasa tertekan. Ia tak harus minta izin untuk pergi ke toilet, tak perlu merasa menjadi "obyek perbandingan" dengan anak lain, ia bisa memakai baju apa saja yang ia suka untuk belajar, bisa memilih waktu belajar sesuai mood-nya, dan sebagainya.

Beberapa literatur saya baca, tentang "home schooling Rasulullah" alias parenting nabawiyah. Mulai dari Sirah Nabawiyah, Islamic Parenting, Parenting Nabawiyah, dan sebagainya. Oya, ada juga dua jilid buku Islamic Hypnoparenting. Yang ini saya jadikan penunjang karena di dalamnya banyak tips untuk menghadapi permasalahan terkait dengan mendidik anak.

Bismillah, setelah istikharah, saya mantap memilih home schooling untuk Nayfah.

Pada intinya, setiap orang tua pasti ingin memilih jalan yang terbaik untuk anak-anaknya. Yang menjadi full-time mother seperti saya, mungkin lebih efektif jika menyekolahrumahkan anak. Namun pada para ibu yang berkarier, mungkin harus berpikir berulang kali untuk memilih option ini.

Fabric Flower


Source: here

Reuse Card Boards, Save Earth!



Sunday, October 5, 2014

Kids Activity: Wooden Button on Canvas

Saat berbelanja perlengkapan craft minggu lalu, tak sengaja saya menemukan kancing-kancing kayu berbentuk tumbuhan dan hewan. Tanpa pikir panjang, langsung saya beli. Nayfah pasti senang dengan mainan barunya. 

Setelah tertawa girang dan meloncat-loncat, Nayfah langsung beraksi. Ini kreasinya:

Bahan:
Kertas concorde (kertas tebal)
Greebel white glue (kemasan seperti tipeX)
Kancing kayu aneka bentuk
Kreatifitas dan imajinasi

*semua bahan bisa dibeli di gramedia.
*Untuk gambar, silakan download dan print.
Nayfah menggunakan imajinasinya. Di sebelah kanan ada pohon apel
yang baru saja berbuah, sedangkan di sebelah kiri ada pohon jeruk.
Ia juga menempelkan kancing berbentuk gajah (Nay suka gajah)
dan kupu-kupu.

Dua ekor kupu-kupu sedang duduk (maksudnya hinggap) di atas batu,
dan seekor lainnya sedang bermain dengan gajah :)
Another forest view :)
Klik gambar untuk membuka sesuai ukuran aslinya.

Klik gambar untuk membuka sesuai ukuran aslinya.
 

Friday, October 3, 2014

Crochet Basic Stitches



Hi Ladies,

Pernah bingung atau galau melihat simbol seperti di atas? Saya IYA, beberapa tahun lalu saat baru mengenal dunia rajutan. 
Saya belajar secara otodidak, berbekal pengetahuan dasar tentang membuat rantai dan tusuk ganda yang diajarkan oleh tante saya saat masih duduk di kelas 4 SD. 

Masih ingat, saat itu saya sedang libur panjang dan menginap di rumah nenek. Tante saya orangnya kreatif. Sebelum mengenalkan saya pada benang dan hakpen, beliau sudah lebih dulu mengajari saya membuat keset berbahan perca goni dan bahan kaos. Yup, karena di dekat rumah nenek ada UKM yang membidangi sablon kaos dan kaos olahraga. Dari sanalah Tante saya mendapatkan bahan-bahan sisa tersebut.

Kembali ke rajutan. Saat belajar pertama kali, saya membuat kantong koin kecil. Benangnya menggunakan benang siet, yang teksturnya sedikit berbulu. Saya lupa saat itu menggunakan hakpen nomor berapa. Yang saya ingat, saat itu kami merajut dengan men-double benang. Yeap, jaman dulu belum ada benang warna sembur. Jadi kami menggabungkan dua helai benang sekaligus.

Oke, cukup dulu nostalgianya. Sekarang kita belajar simbol-simbol crochet yuk!


Slip Knot dan Chain Stitch (ch)
Slip knot adalah simpul awal, sedangkan chain stitch disebut juga dengan istilah "rantai". Tusuk rantai seringkali digunakan sebagai dasar rajutan.


Slip Stitch (sl st)
Biasa digunakan untuk menyatukan akhir round atau untuk membuat lingkaran dasar dari rantai.

Single Crochet (sc) -- tusuk tunggal 



Half Double Crochet (hdc) -- tusuk setengah ganda

Double Crochet (dc) -- tusuk ganda

Triple/treble crochet (tr)

Increase (inc)
Istilah ini digunakan untuk penambahan jumlah tusuk pada satu lubang, misalnya inc sc  atau inc dc. Berikut ini adalah contoh inc sc:

Decrease (dec)
Adalah kebalikan dari inc. Pada decrease (dec), kita menyatukan dua atau lebih tusukan.  
dec dc

dec sc
Front Post dc (fpdc)
Dibuat dengan cara menyelipkan hook pada bagian batang row sebelumnya, dari arah depan (yang menghadap kita).

Back Post dc (bpdc)
Kebalikan dari fpdc, untuk membuat tusuk ini, kita selipkan hook dari arah yang berlawanan dari kita.


Semoga bermanfaat, jangan lupa untuk yang ingin belajar membuat buket bunga bisa cek fb saya Novelia Ummu Nayfah ;) Workshop apa saja? Ini dia:
Workshop online membuat Ever After Bridal Bouquet
Workshop Online membuat Romance Rose
Always Bride


Rose Bouquet










Sunday, September 28, 2014

Simple Wavy Rose Brooch (Recommended for Beginner)

Punya perca kain? Jangan dibuang dulu! Dengan sedikit kreatifitas, kita bisa menyulap kain sisa menjadi bros cantik seperti ini:



Potong kain berbentuk lingkaran
Lipat menjadi dua

Lipat lagi menjadi tiga bagian (gambar dilihat dari atas)

Dari depan tampak seperti ini

Siapkan alas dari kain flanel yang sudah dibentuk lingkaran.
Saya memberi garis di bagian dalam untuk memudahkan proses menjahit.

Ambil satu lembar kain yang sudah dilipat, lalu
jahit bagian tengahnya ke kain flanel.

Jahit terus hingga berbentuk lingkaran bergelombang.

Begini hasil setelah dijahit.

Untuk menghias bagian tengah, saya menggunakan cara praktis,
yaitu dengan menggunakan perca panjang.

Lipat ujung kain

Bentuk ujungnya seperti segi tiga

Lekatkan di bagian tengah dengan cara menjahit atau
menggunakan lem.

Putar kain ke arah luar, lalu lilitkan dari bagian tengah.

Gunakan lem tembak (atau lem khusus kain) untuk memudahkan
saat membuat kreasi mawar lingkaran.

Gunting ujung kain, selipkan di bawah lilitan.

Hasil jadi seperti ini :)
Untuk bagian belakang, tutupi bekas jahitan dengan kain flanel bulat yang disematkan peniti.